Jumat, 25 Maret 2011

Dajjal.


Siapa itu Dajjal dan bagaimana itu Dajjal..???
Benarkah kata sebagian orang bahwa Dajjal itu sudah berkeliaran pada dewasa ini,,?????
Dalam bahasa Arab, kata-kata Dajjal adalah shingat mubalaghah dari pada Dajjal jad-julu yang semakna dengan kadzaba jakdzibu, yang artinya bedusta. Maka Dajjal artinya pembohong besar. Karena amtsilatul mubalaghah itu adalah :
Beberapa wazan yang di maksud untuk menunjuki kepada banyaknya dzat bersifat dengan sesuatu sifat.
Untuk makna ini, pernah bersabda Rasulullah saw.
Dan sesungguhnya akan ada pada ummatku tigapuluh orang dajjal artinya pembohong besar. Tiap-tiap orang dari mereka mengaku yang ia Nabi. Aku penyudah sekalian Nabi-nabi. Tidak ada seorang Nabipun sesudah aku (HR. Abu Daud).
Akan tetapi menurut Aqidah Isalmiyyah, bahwa dajjal yang kita sunnat minta perlindungan Allah dari pada gangguannya itu adalah suatu oknum yang tertentu yang akan datang pada akhir zaman, sebagai ujian Allah atas hamba-hamba-Nya dan di berikan kemampuan kepadanya untuk beberapa perkara yang luar biasa, seperti menghidupkan orang-orang yang telah di bunuhnya, dimana di milikinya kehidupan denga  segala kemegahannya di dunia, kemakmuran, surga, neraka, dapat di perintahnya turun hujan, di perintahkannya bumi untuk tumbuh, maka tumbuhlah bumi. Akan tetapi semua itu terjadi dengan takdir dan kehendak Allah swt. Akhirnya di lemahkan Allah juga laki-laki yang bernama DAJJAL itu. Tetapi tak ada yang dapat membunuh dia kecuali Nabi Isa as.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. Pernah menyebut Addajjal di muka khayalak ramai maka sabdanya :
Sesungguhnya Allah swt. Tidaklah buta. Ketahuilah bahwa Almashihuddajjal buta matanya yang kanan, seolah-olah matanya itu buah anggur yang menonjol. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Hudzaifah dari Nabi saw. Bahwa beliau bercerita tentang dajjal :
Sesungguhnya bersama dia air dan api, maka apinya itu adalah air dingin. Dan airnya itu adalah api. Maka janganlah kamu jadi binasa.
Diriwayatkan dari Abi Salamah berkata  ia : aku pernah mendengar Abi Hurairah berkata : Telah bersabda Rasulullah saw.
Maukah kamu aku beritakan tentang dajjal sebagai satu pembicaraan yang belum pernah seorang Nabi menceritakannya kepada kaumnya. Sesungguhnya dia itu buta sebelah matanya, dan ia akan datang membawa seperti Sorga dan neraka. Maka apa yang di katakannya Sorga, itulah neraka. Dan sesungguhnya aku pertakutkan kamu dengannya, sebagaimana Nabiyallah Nuh as, mempertakutkan kaumnya. (HR. Muslim)
Diriwayatkan pula Sitti Aisyah ra. Bahwa Nabi saw. Adalah selalu beliau berdoa dalam sembahyangnya :
Ya Allah…
Sesungguhnya aku berlindung dengan engkau dari siksa kubur, dan aku berlindung dengan engkau dari cobaannya si petualang Dajjal dan aku berlindung dengan engkau dari ujian hidup dan ujian mati ya Allah. Aku berlindung dengan engkau dari perhutangan dan kedosaan. (HR. Aljama’ah kecuali Albukhari).

Apakah benar Nabi Isa as. Telah wafat dan jasadnya di kubur seperti Nabi-nabi lainnya,,?????


Berikut ini saya jabarkan jawabnya sesuai yang tertulis di dalam buku 100 masalah agama
Dari zaman Nabi Muhammad saw. Sampai waktu ini, orang-orang Islam berkata dan ber’itiqad bahwa Nabi Isa as. Hidup di langit dan akan turun. Menurut Al-Qur’an, Al-Hadist dan tarikh, kita telah sama-sama mengakui bahwa Nabiyallah Isa as. Itu dulunya ada hidup. Sebenarnya, dengan asal ini saja sudah cukup buat dalil kita atas hidupnya Nabiyallah Isa as. Kalau sekarang kita cari di seluruh dunia bahwa Nabiyallah Isa as. Tidak ada, itu tidak boleh di jadikan alasan untuk mengatakan beliau sudah wafat.
Untuk menetapkan aqidah, wajib dengan keterangan dan bukan dengan perasaan.
Perhatikan Firman Allah swt. Dalam Surat Annisa : 157
Mereka (kaum Yahudi) itu tak dapat membunuh dia, (Isa as.) Dan tak dapat mensalib dia, akan tetapi di samarkan atas mereka (yakni mereka hendak membunuh Isa as. Tetapi terbunuh orang lain yang serupa Nabi Isa as.) ; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham ditentang itu, adalah di dalam keraguan. Mereka tidak berpengetahuan di tentang itu, kecuali dengan turut sangka-sangkaan saja. Mereka tidak membunuhnya dengan yakin, tetapi Allah telah angkat dia Kepada-Nya; dan adalah Allah itu Maha Gagah dan Bijaksana. Kata-kata”rafa’a” atau mengangkat pada ayat tersebut denagn memperhatikan lanjutannya adalah berarti angkatan badan, bukan angkatan ruh atau darojah, karena Nabi Isa as. Ketika itu mau di bunuh dan di salib oleh musuhnya, sepantasnya beliau dilakukan dari sana dengan di angkat dari tempat yang musuhnya tidak bisa sampai dan tidak tepat kalau di beri kehormatan
Selanjutnya Firman Allah swt. Dalam Surat Ali Imron : 55
Mereka (kaum Yahudi) berdaya upaya hendak membunuh Isa as. Dan Allah balas tipu daya mereka; dan Allah itu sebaik-baiknya pembalas. Ingatlah tatkala Allah bertanya: Ya Isa, aku ambil engkau dan aku angkat engkau kepadaku dan aku bersihkan dikau daripada gangguan orang-orang yang kafir itu.
Ayat ini dengan terang menunjukkan, bahwa Kaum Yahudi, berdaya upaya hendak membunuh Nabi Isa as. Maka apakah kiranya tepat, kalau di artikan : bahwa Allah swt, akan menyelamatkan Nabi Isa dari pada terkena bunuh oleh musuhnya, dengan mematikannya. Sudah barang tentu tidak…!!!!!!
Adapun Hadist yang berkenaan dengan ini, adalah sebagaimana diriwayatkan dari Hasyim bin Hassan dari Muhammad dari Abi Hurairah ra. Bersabdalah Rasulullah saw.
Bagaimanakah nanti keadaan kamu apabila turun Nabi Isa anakMaryam dari langit kepadamu sedang imam kamu dari antara kamu sendiri. (HR. Albaihaqi).
Hadist ini dengan terang menyebut, bahwa Nabiyallah Isa as. Akan turun dari langit dengan mempergunakan kata-kata minassama’. Adapula di riwayatkan dari Abi Hurairah ra. Di mana bersabda Rasulullah saw. :
Demi Tuhan yang dirku berada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya hampir turun (Isa) anak Maryam di antara kamu sebagai Hakim yang adil, lalu ia akan hancurkan salib ( HR. Al Bukhari).
Kami kira jelas, yang akan turun dari langit itu tentu bukan mayyit, tetapi orang yang hidup betul-betul. Kami tambah pula, bahwa Suratunnisa : 157 sebagai berikut :
Tidak seorangpun dari ahli kitab kecuali tentu akan beriman kepadanya sebelum matinya.
Begitulah dalam tafsiran Ibnu Katsir, Fathul bari.
Tafsiran ayat ini menurut Ibnu Abbas :
Telah berkata Imam Malik :
Yang demikian itu adalah seketika turunnya Isa as. Tidaklah ketinggalan seorangpun dari para ahli kitab melainkan akan beriman kepada isa. Kata Al Hasa
 (mengenai tafsriran ayat tersebut)
Sebelum matinya Isa, Demi Allah, sebenarnya Isa itu masih hidup sampai sekarang di sisi Allah, tetapi apabila ia turun mereka sekalian akan beriman kepadanya.
Berkata Al Hasan pula :
Sesungguhnya Allah telah angkat Isa dan Ia akan kirim dia sebelum hari Qiyamat

Demikian jawaban kami tetang masih hidupnya Isa as.



Kamis, 17 Februari 2011

Sejarah Perkembangan Sistem Perekonomian Di Indonesia


Perekonomian Pada Tahun 1965-1969

A. Pendahuluan.
Pola dan proses dinamika pembangunan ekonomi dipengaruhi oleh:
a)  Faktor Internal: kondisi fisik (iklim), lokasi geografis, jumlah dan kualitas sumber daya alam, sumber daya manusia, kondisi awal ekonomi, sosial dan budaya, system politik, dan peran pemerintah dalam pembangunan
b)  Faktor eksternal: perkembangan teknologi, kondisi perekonomian dan politik dunia, dan keamanan global
Mengapa Malaysia, Hongkong, India dan Singapora yang dijajah oleh Inggris mengalami pembangunan yang lebih maju di bandingkan dengan Indonesia yang dijajah oleh Belanda?. Keberhasilan pembangunan ekonomi tidak ditentukan oleh siapa penjajahnya, tapi ditentukan oleh:
a)  Orientasi politik
b)  Sistem ekonomi
c)  Kebijakan pemerintah dalam pembangunan ekonomi setelah pemerintahan penjajah

B. Sejarah Ekonomi Indonesia.

Kondisi ekonomi tidak menguntungkan:
a)    Selama dekade 1950an, pertumbuhan ekonomi rata-rata 7%
b)    Periode 1960 – 1966, pertumbuhan ekonomi 1,9% dan stagflasi (high rate of unemployment and inflation)
c)    Periode 1955 – 1965, rata-rata pendapatan pemerintah Rp 151 juta dan pengeluaran Rp 359 juta
d)    Produksi sektor pertanian dan perindustrian sangat rendah sebagai akibat dari kurangnya kapasitas produksi dan infrastruktur pendukung
e)    Jumlah uang yang beredar berlebihan, sehingga terjadi inflasi



Kondisi politik:
a)    Indonesia menghadapi 2 perang besar dengan Belanda
b)    Gejolak politik dalam negeri dan beberapa pemberontakan
c)    Manajemen ekonomi makro yang buruk




1. Pemerintahan Orde Lama


Tahun
Pendapatan
Pengeluaran
Saldo
1955
14
16
-2
1956
18
21
-3
1957
21
26
-5
1958
23
35
-12
1959
30
44
-14
1960
50
58
-8
1961
62
88
-26
1962
75
122
-47
1963
162
330
-168
1964
283
681
-398
1965
923
2.526
-1603
Tabel 1. Saldo APBN

Tabel 2. Perkembangan Inflasi dan Jumlah Uang Beredar.
Tahun
Indeks Harga (1954=100)
Pengeluaran
1955
135
12,20
1956
133
13,40
1957
206
18,90
1958
243
29,40
1959
275
34,90
1960
330
47,90
1961
644
67,60
1962
1.648
135,90
1963
3.770
263,40
1964
8.870
675,10
1965
61.400
2.582,0
1966
152.200
5.593,4


Dumairy (1996) menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia:
a)    Periode 1945 – 1950.
b)    Periode demokrasi parlementer/liberal (1950 – 1959)
Banyak partai politik
Sektor formal: pertambangan, pertanian, distribusi, bank, dan transportasi yang padat modal dan dikuasai oleh asing serta berorientasi ekspor memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDB
8 kali perubahan kabinet:
ü Kabinet Hatta dengan kebijakan Reformasi moneter via devaluasi mata uang local (Gulden) dan pemotongan uang sebesar 50% atas uang kertas yang beredar yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank dengan nilai nominal > 2,50 Gulden Indonesia.
ü Kabinet Natsir dengan kebijakan perumusan perencanaan pembangunan ekonomi yang disebut dengan Rencana Urgensi Perekonomian (RUP)
ü Kabinet Sukiman dengan kebijakan nasionalisasi oleh De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia dan penghapusan system kurs berganda
ü Kabinet Wilopo dengan kebijakan anggaran berimbang dalam APBN, memperketat impor, merasionalisasi angkatan bersenjata dengan modernisasi dan pengurangan jumlah personil, serta pengiritan pengeluaran pemerintah
ü Kabinet Ali I dengan kebijakan pembatasan impor dan kebijakan uang ketat
ü Kabinet Burhanudin dengan kebijakan liberalisasi impor, kebijakan uang ketat untuk menekan jumlah uang yang beredar, dan penyempurnaan program benteng (bagian dari program RUP yakni program diskriminasi rasial untuk mengurangi dominasi ekonomi),  memperkenankan investasi asing masuk ke Indonesia, membantu pengusaha pribumi, serta menghapus persetujuan meja bundar (menghilangkan dominasi belanda perekonomian nasional.
ü Kabinet Ali II dengan kebijakan rencana pembangunan lima tahun 1956 - 1960
ü Kebinet Djuanda dengan kebijakan stabilitas politik dan nasionalisasi perusahaan belanda.
c)    Periode demokrasi terpimpin (1959 – 1965)
Dilakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan belanda.
Lebih cenderung kepada pemikiran sosialis komunis
Politik tidak stabil sampai pada puncaknya pada September 1965

2. Pemerintahan Orde Baru
Sejak Maret 1966.
Pemerintah mengarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan ekonomi dan sosial.
Pemerintah meninggalkan idiologi komunis dan menjalin hubungan dengan Negara barat dan menjadi anggota PBB, IMF, dan Bank Dunia.
Kondisi perekonomian Indonesia:
(a) ketidakmampuan membayar hutang LN US $32 Milyar
(b) Penerimaan ekspor hanya setengah dari pengeluaran untuk impor
(c) Pengendalian anggaran belanja dan pemungutan pajak yang tidak berdaya
(d) Inflasi 30 – 50 persen per bulan
(e) Kondisi prasarana perekonomian yang bururk
(f) Kapasitas produktif sektor industri dan ekspor menurun

Prioritas kebijakan ekonomi:
(a) Memerangi hiperinflasi
(b) Mencukupkan persediaan pangan (beras)
(c) merehabilitasi prasaran perekonomian
(d) Peningkatan ekspor
(e) Penyediaan lapangan kerja
(f) Mengundang investor asing

Program ekonomi orde baru mencakup:
(a)Jangka pendek
·     Juli – Desember 1966 untuk program pemulihan
·     Januari – Juni 1967 untuk tahap rehabilitasi
·     Juli – Desember 1967 untuk tahap konsolidasi
·     Januari – Juni 1968 untuk tahap stabilisasi

(b)Jangka panjang yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) mulai April tahun 1969.

Dalam rangka mendukung kebijakan jangka pendek, pemerintah:
(a) Memperkenalkan kebijakan anggaran berimbang (balanced budget policy)
(b) Pembentukan IGGI
(c) Melakukan reformasi terhadap sistem perbankan
·     UU tahun 1967 tentang Perbankan
·     UU tahun 1968 tentang Bank Sentral
·     Uu tahun 1968 tentang Bank Asing

(d) Menjadi anggota kembali IMF
(e) Pemberian peran yang lebih besar kepada bank bank dan lembaga keuangan lain sebagai ’”agen pembangunan”. Dengan memobilisasi tabungan masyarakat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memainkan peranan penting untuk pembangunan pasar uang dan pasar modal.

Mulai 1 April 1969,  Program pembangunan jangka panjang terdiri dari tahapan-tahapan REPELITA dengan sasaran:
(a) stabilitas perekonomian
(b) pertumbuhan ekonomi
(c) pemerataan hasil pembangunan


          Menyusul kudeta komunis yang gagal  dalam bulan September 1965, sebuah pemerintah baru tampil sejak Maret 1966. Rejim baru ini mewarisi keadaan perekonomian yang porak poranda : (a) ketidakmampuan memenuhi kewajiban utang luar negeri sebesar lebih dari US$ 2 Miliar; (b) penerimaan ekspor yang hanya setengah dari pengeluaran untuk impor barang dan jasa; (c) ketidakberdayaan mengendalikan anggaran belanja dan memungut pajak; (d) laju inflasi secepat 30-50 persen per-bulan; dan (e) buruknya kondisi prasarana perekonomian serta penurunan kapasitas produktif sektor industri dan ekspor. Menghadapi keadaan yang demikian parah, ditetapkan beberapa langkah prioritas kebijakan ekonomi yang berupa upaya-upaya :
1.    Memerangi hiperinflasi
2.    Mencukupkan stok bahan pangan, khususnya beras
3.    Merehabilitasi prasarana perekonomian
4.    Meningkatkan ekspor
5.    Menyediakan lapangan kerja, dan
6.    Mengundang kembali investsasi asing
Secara keseluruhan, program ekonomi pemerintah orde baru ini di bagi menjadi dua jangka waktu yang saling berkaitan, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Program ekonomi jangka pendek terdiri atas :
ü  Tahap penyelamata (Juli-Desember 1966)
ü  Tahap rehabilitasi (Januari-Juni 1967)
ü  Tahap konsolidasi (Juli-Desember 1967) dan
ü  Tahap stabilisasi (Januari-Juni 1968)
Program jangka pendek ini diikuti dengan program jangka panjang, terdiri atas rangkaian Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang dimulai pada bulan April 1969.

Dalam rangka mendukung kebijakan jangka pendek, pemerintah memperkenalkan Kebijakan Anggaran Berimbang (Balanced Budget Policy). Sementara itu, berkenaan dengan beban utang luar negeri, terbentuk sebuah “konsorsium” negara-negara donatur bernama Inter-Govermental Group On Indonesia (IGGI). Dengan kebijakan-kebijakanyang di tempuh selama periode jangka pendek ini, Indonesia membuka peluang bagi masuknya investasi asing dan menaruh kepercayaan yang lebih besar pada kekuatan pasar.

         Di sektor moneter, di lakukan reformasi besar atas sistem perbankan. Bersamaan dengan itu, Indonesia kembali menjadi anggota Internasional Monetary Fund (kita keluar dari keanggotaan IMF pada bulan Agustus 1965). Tiga Undang-undang baru tentang perbankan diberlakukan; masing-masing Undang-undang tentang perbankan 1967, Undang-undang tentang Bank Sentral tahun 1968, dan Undang-undang tentang Bank Asing tahun 1968. Ketiganya menjadi basis legal bagi pelaksana dan pengaturan kerangkasistem moneter. Peranan bank-bank dan lembaga-lembaga keuangan lain sebagai “agen pembangunan” diperbesar. Lembaga-lembaga ini di harapkan memobilisasi tabungan masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Mereka juga di harapkan memainkan peranan penting dalam pembangunan pasar uang dan pasar modal.



Jumat, 25 Maret 2011

Dajjal.


Siapa itu Dajjal dan bagaimana itu Dajjal..???
Benarkah kata sebagian orang bahwa Dajjal itu sudah berkeliaran pada dewasa ini,,?????
Dalam bahasa Arab, kata-kata Dajjal adalah shingat mubalaghah dari pada Dajjal jad-julu yang semakna dengan kadzaba jakdzibu, yang artinya bedusta. Maka Dajjal artinya pembohong besar. Karena amtsilatul mubalaghah itu adalah :
Beberapa wazan yang di maksud untuk menunjuki kepada banyaknya dzat bersifat dengan sesuatu sifat.
Untuk makna ini, pernah bersabda Rasulullah saw.
Dan sesungguhnya akan ada pada ummatku tigapuluh orang dajjal artinya pembohong besar. Tiap-tiap orang dari mereka mengaku yang ia Nabi. Aku penyudah sekalian Nabi-nabi. Tidak ada seorang Nabipun sesudah aku (HR. Abu Daud).
Akan tetapi menurut Aqidah Isalmiyyah, bahwa dajjal yang kita sunnat minta perlindungan Allah dari pada gangguannya itu adalah suatu oknum yang tertentu yang akan datang pada akhir zaman, sebagai ujian Allah atas hamba-hamba-Nya dan di berikan kemampuan kepadanya untuk beberapa perkara yang luar biasa, seperti menghidupkan orang-orang yang telah di bunuhnya, dimana di milikinya kehidupan denga  segala kemegahannya di dunia, kemakmuran, surga, neraka, dapat di perintahnya turun hujan, di perintahkannya bumi untuk tumbuh, maka tumbuhlah bumi. Akan tetapi semua itu terjadi dengan takdir dan kehendak Allah swt. Akhirnya di lemahkan Allah juga laki-laki yang bernama DAJJAL itu. Tetapi tak ada yang dapat membunuh dia kecuali Nabi Isa as.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. Pernah menyebut Addajjal di muka khayalak ramai maka sabdanya :
Sesungguhnya Allah swt. Tidaklah buta. Ketahuilah bahwa Almashihuddajjal buta matanya yang kanan, seolah-olah matanya itu buah anggur yang menonjol. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Hudzaifah dari Nabi saw. Bahwa beliau bercerita tentang dajjal :
Sesungguhnya bersama dia air dan api, maka apinya itu adalah air dingin. Dan airnya itu adalah api. Maka janganlah kamu jadi binasa.
Diriwayatkan dari Abi Salamah berkata  ia : aku pernah mendengar Abi Hurairah berkata : Telah bersabda Rasulullah saw.
Maukah kamu aku beritakan tentang dajjal sebagai satu pembicaraan yang belum pernah seorang Nabi menceritakannya kepada kaumnya. Sesungguhnya dia itu buta sebelah matanya, dan ia akan datang membawa seperti Sorga dan neraka. Maka apa yang di katakannya Sorga, itulah neraka. Dan sesungguhnya aku pertakutkan kamu dengannya, sebagaimana Nabiyallah Nuh as, mempertakutkan kaumnya. (HR. Muslim)
Diriwayatkan pula Sitti Aisyah ra. Bahwa Nabi saw. Adalah selalu beliau berdoa dalam sembahyangnya :
Ya Allah…
Sesungguhnya aku berlindung dengan engkau dari siksa kubur, dan aku berlindung dengan engkau dari cobaannya si petualang Dajjal dan aku berlindung dengan engkau dari ujian hidup dan ujian mati ya Allah. Aku berlindung dengan engkau dari perhutangan dan kedosaan. (HR. Aljama’ah kecuali Albukhari).

Apakah benar Nabi Isa as. Telah wafat dan jasadnya di kubur seperti Nabi-nabi lainnya,,?????


Berikut ini saya jabarkan jawabnya sesuai yang tertulis di dalam buku 100 masalah agama
Dari zaman Nabi Muhammad saw. Sampai waktu ini, orang-orang Islam berkata dan ber’itiqad bahwa Nabi Isa as. Hidup di langit dan akan turun. Menurut Al-Qur’an, Al-Hadist dan tarikh, kita telah sama-sama mengakui bahwa Nabiyallah Isa as. Itu dulunya ada hidup. Sebenarnya, dengan asal ini saja sudah cukup buat dalil kita atas hidupnya Nabiyallah Isa as. Kalau sekarang kita cari di seluruh dunia bahwa Nabiyallah Isa as. Tidak ada, itu tidak boleh di jadikan alasan untuk mengatakan beliau sudah wafat.
Untuk menetapkan aqidah, wajib dengan keterangan dan bukan dengan perasaan.
Perhatikan Firman Allah swt. Dalam Surat Annisa : 157
Mereka (kaum Yahudi) itu tak dapat membunuh dia, (Isa as.) Dan tak dapat mensalib dia, akan tetapi di samarkan atas mereka (yakni mereka hendak membunuh Isa as. Tetapi terbunuh orang lain yang serupa Nabi Isa as.) ; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham ditentang itu, adalah di dalam keraguan. Mereka tidak berpengetahuan di tentang itu, kecuali dengan turut sangka-sangkaan saja. Mereka tidak membunuhnya dengan yakin, tetapi Allah telah angkat dia Kepada-Nya; dan adalah Allah itu Maha Gagah dan Bijaksana. Kata-kata”rafa’a” atau mengangkat pada ayat tersebut denagn memperhatikan lanjutannya adalah berarti angkatan badan, bukan angkatan ruh atau darojah, karena Nabi Isa as. Ketika itu mau di bunuh dan di salib oleh musuhnya, sepantasnya beliau dilakukan dari sana dengan di angkat dari tempat yang musuhnya tidak bisa sampai dan tidak tepat kalau di beri kehormatan
Selanjutnya Firman Allah swt. Dalam Surat Ali Imron : 55
Mereka (kaum Yahudi) berdaya upaya hendak membunuh Isa as. Dan Allah balas tipu daya mereka; dan Allah itu sebaik-baiknya pembalas. Ingatlah tatkala Allah bertanya: Ya Isa, aku ambil engkau dan aku angkat engkau kepadaku dan aku bersihkan dikau daripada gangguan orang-orang yang kafir itu.
Ayat ini dengan terang menunjukkan, bahwa Kaum Yahudi, berdaya upaya hendak membunuh Nabi Isa as. Maka apakah kiranya tepat, kalau di artikan : bahwa Allah swt, akan menyelamatkan Nabi Isa dari pada terkena bunuh oleh musuhnya, dengan mematikannya. Sudah barang tentu tidak…!!!!!!
Adapun Hadist yang berkenaan dengan ini, adalah sebagaimana diriwayatkan dari Hasyim bin Hassan dari Muhammad dari Abi Hurairah ra. Bersabdalah Rasulullah saw.
Bagaimanakah nanti keadaan kamu apabila turun Nabi Isa anakMaryam dari langit kepadamu sedang imam kamu dari antara kamu sendiri. (HR. Albaihaqi).
Hadist ini dengan terang menyebut, bahwa Nabiyallah Isa as. Akan turun dari langit dengan mempergunakan kata-kata minassama’. Adapula di riwayatkan dari Abi Hurairah ra. Di mana bersabda Rasulullah saw. :
Demi Tuhan yang dirku berada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya hampir turun (Isa) anak Maryam di antara kamu sebagai Hakim yang adil, lalu ia akan hancurkan salib ( HR. Al Bukhari).
Kami kira jelas, yang akan turun dari langit itu tentu bukan mayyit, tetapi orang yang hidup betul-betul. Kami tambah pula, bahwa Suratunnisa : 157 sebagai berikut :
Tidak seorangpun dari ahli kitab kecuali tentu akan beriman kepadanya sebelum matinya.
Begitulah dalam tafsiran Ibnu Katsir, Fathul bari.
Tafsiran ayat ini menurut Ibnu Abbas :
Telah berkata Imam Malik :
Yang demikian itu adalah seketika turunnya Isa as. Tidaklah ketinggalan seorangpun dari para ahli kitab melainkan akan beriman kepada isa. Kata Al Hasa
 (mengenai tafsriran ayat tersebut)
Sebelum matinya Isa, Demi Allah, sebenarnya Isa itu masih hidup sampai sekarang di sisi Allah, tetapi apabila ia turun mereka sekalian akan beriman kepadanya.
Berkata Al Hasan pula :
Sesungguhnya Allah telah angkat Isa dan Ia akan kirim dia sebelum hari Qiyamat

Demikian jawaban kami tetang masih hidupnya Isa as.



Kamis, 17 Februari 2011

Sejarah Perkembangan Sistem Perekonomian Di Indonesia


Perekonomian Pada Tahun 1965-1969

A. Pendahuluan.
Pola dan proses dinamika pembangunan ekonomi dipengaruhi oleh:
a)  Faktor Internal: kondisi fisik (iklim), lokasi geografis, jumlah dan kualitas sumber daya alam, sumber daya manusia, kondisi awal ekonomi, sosial dan budaya, system politik, dan peran pemerintah dalam pembangunan
b)  Faktor eksternal: perkembangan teknologi, kondisi perekonomian dan politik dunia, dan keamanan global
Mengapa Malaysia, Hongkong, India dan Singapora yang dijajah oleh Inggris mengalami pembangunan yang lebih maju di bandingkan dengan Indonesia yang dijajah oleh Belanda?. Keberhasilan pembangunan ekonomi tidak ditentukan oleh siapa penjajahnya, tapi ditentukan oleh:
a)  Orientasi politik
b)  Sistem ekonomi
c)  Kebijakan pemerintah dalam pembangunan ekonomi setelah pemerintahan penjajah

B. Sejarah Ekonomi Indonesia.

Kondisi ekonomi tidak menguntungkan:
a)    Selama dekade 1950an, pertumbuhan ekonomi rata-rata 7%
b)    Periode 1960 – 1966, pertumbuhan ekonomi 1,9% dan stagflasi (high rate of unemployment and inflation)
c)    Periode 1955 – 1965, rata-rata pendapatan pemerintah Rp 151 juta dan pengeluaran Rp 359 juta
d)    Produksi sektor pertanian dan perindustrian sangat rendah sebagai akibat dari kurangnya kapasitas produksi dan infrastruktur pendukung
e)    Jumlah uang yang beredar berlebihan, sehingga terjadi inflasi



Kondisi politik:
a)    Indonesia menghadapi 2 perang besar dengan Belanda
b)    Gejolak politik dalam negeri dan beberapa pemberontakan
c)    Manajemen ekonomi makro yang buruk




1. Pemerintahan Orde Lama


Tahun
Pendapatan
Pengeluaran
Saldo
1955
14
16
-2
1956
18
21
-3
1957
21
26
-5
1958
23
35
-12
1959
30
44
-14
1960
50
58
-8
1961
62
88
-26
1962
75
122
-47
1963
162
330
-168
1964
283
681
-398
1965
923
2.526
-1603
Tabel 1. Saldo APBN

Tabel 2. Perkembangan Inflasi dan Jumlah Uang Beredar.
Tahun
Indeks Harga (1954=100)
Pengeluaran
1955
135
12,20
1956
133
13,40
1957
206
18,90
1958
243
29,40
1959
275
34,90
1960
330
47,90
1961
644
67,60
1962
1.648
135,90
1963
3.770
263,40
1964
8.870
675,10
1965
61.400
2.582,0
1966
152.200
5.593,4


Dumairy (1996) menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia:
a)    Periode 1945 – 1950.
b)    Periode demokrasi parlementer/liberal (1950 – 1959)
Banyak partai politik
Sektor formal: pertambangan, pertanian, distribusi, bank, dan transportasi yang padat modal dan dikuasai oleh asing serta berorientasi ekspor memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDB
8 kali perubahan kabinet:
ü Kabinet Hatta dengan kebijakan Reformasi moneter via devaluasi mata uang local (Gulden) dan pemotongan uang sebesar 50% atas uang kertas yang beredar yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank dengan nilai nominal > 2,50 Gulden Indonesia.
ü Kabinet Natsir dengan kebijakan perumusan perencanaan pembangunan ekonomi yang disebut dengan Rencana Urgensi Perekonomian (RUP)
ü Kabinet Sukiman dengan kebijakan nasionalisasi oleh De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia dan penghapusan system kurs berganda
ü Kabinet Wilopo dengan kebijakan anggaran berimbang dalam APBN, memperketat impor, merasionalisasi angkatan bersenjata dengan modernisasi dan pengurangan jumlah personil, serta pengiritan pengeluaran pemerintah
ü Kabinet Ali I dengan kebijakan pembatasan impor dan kebijakan uang ketat
ü Kabinet Burhanudin dengan kebijakan liberalisasi impor, kebijakan uang ketat untuk menekan jumlah uang yang beredar, dan penyempurnaan program benteng (bagian dari program RUP yakni program diskriminasi rasial untuk mengurangi dominasi ekonomi),  memperkenankan investasi asing masuk ke Indonesia, membantu pengusaha pribumi, serta menghapus persetujuan meja bundar (menghilangkan dominasi belanda perekonomian nasional.
ü Kabinet Ali II dengan kebijakan rencana pembangunan lima tahun 1956 - 1960
ü Kebinet Djuanda dengan kebijakan stabilitas politik dan nasionalisasi perusahaan belanda.
c)    Periode demokrasi terpimpin (1959 – 1965)
Dilakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan belanda.
Lebih cenderung kepada pemikiran sosialis komunis
Politik tidak stabil sampai pada puncaknya pada September 1965

2. Pemerintahan Orde Baru
Sejak Maret 1966.
Pemerintah mengarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan ekonomi dan sosial.
Pemerintah meninggalkan idiologi komunis dan menjalin hubungan dengan Negara barat dan menjadi anggota PBB, IMF, dan Bank Dunia.
Kondisi perekonomian Indonesia:
(a) ketidakmampuan membayar hutang LN US $32 Milyar
(b) Penerimaan ekspor hanya setengah dari pengeluaran untuk impor
(c) Pengendalian anggaran belanja dan pemungutan pajak yang tidak berdaya
(d) Inflasi 30 – 50 persen per bulan
(e) Kondisi prasarana perekonomian yang bururk
(f) Kapasitas produktif sektor industri dan ekspor menurun

Prioritas kebijakan ekonomi:
(a) Memerangi hiperinflasi
(b) Mencukupkan persediaan pangan (beras)
(c) merehabilitasi prasaran perekonomian
(d) Peningkatan ekspor
(e) Penyediaan lapangan kerja
(f) Mengundang investor asing

Program ekonomi orde baru mencakup:
(a)Jangka pendek
·     Juli – Desember 1966 untuk program pemulihan
·     Januari – Juni 1967 untuk tahap rehabilitasi
·     Juli – Desember 1967 untuk tahap konsolidasi
·     Januari – Juni 1968 untuk tahap stabilisasi

(b)Jangka panjang yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) mulai April tahun 1969.

Dalam rangka mendukung kebijakan jangka pendek, pemerintah:
(a) Memperkenalkan kebijakan anggaran berimbang (balanced budget policy)
(b) Pembentukan IGGI
(c) Melakukan reformasi terhadap sistem perbankan
·     UU tahun 1967 tentang Perbankan
·     UU tahun 1968 tentang Bank Sentral
·     Uu tahun 1968 tentang Bank Asing

(d) Menjadi anggota kembali IMF
(e) Pemberian peran yang lebih besar kepada bank bank dan lembaga keuangan lain sebagai ’”agen pembangunan”. Dengan memobilisasi tabungan masyarakat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memainkan peranan penting untuk pembangunan pasar uang dan pasar modal.

Mulai 1 April 1969,  Program pembangunan jangka panjang terdiri dari tahapan-tahapan REPELITA dengan sasaran:
(a) stabilitas perekonomian
(b) pertumbuhan ekonomi
(c) pemerataan hasil pembangunan


          Menyusul kudeta komunis yang gagal  dalam bulan September 1965, sebuah pemerintah baru tampil sejak Maret 1966. Rejim baru ini mewarisi keadaan perekonomian yang porak poranda : (a) ketidakmampuan memenuhi kewajiban utang luar negeri sebesar lebih dari US$ 2 Miliar; (b) penerimaan ekspor yang hanya setengah dari pengeluaran untuk impor barang dan jasa; (c) ketidakberdayaan mengendalikan anggaran belanja dan memungut pajak; (d) laju inflasi secepat 30-50 persen per-bulan; dan (e) buruknya kondisi prasarana perekonomian serta penurunan kapasitas produktif sektor industri dan ekspor. Menghadapi keadaan yang demikian parah, ditetapkan beberapa langkah prioritas kebijakan ekonomi yang berupa upaya-upaya :
1.    Memerangi hiperinflasi
2.    Mencukupkan stok bahan pangan, khususnya beras
3.    Merehabilitasi prasarana perekonomian
4.    Meningkatkan ekspor
5.    Menyediakan lapangan kerja, dan
6.    Mengundang kembali investsasi asing
Secara keseluruhan, program ekonomi pemerintah orde baru ini di bagi menjadi dua jangka waktu yang saling berkaitan, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Program ekonomi jangka pendek terdiri atas :
ü  Tahap penyelamata (Juli-Desember 1966)
ü  Tahap rehabilitasi (Januari-Juni 1967)
ü  Tahap konsolidasi (Juli-Desember 1967) dan
ü  Tahap stabilisasi (Januari-Juni 1968)
Program jangka pendek ini diikuti dengan program jangka panjang, terdiri atas rangkaian Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang dimulai pada bulan April 1969.

Dalam rangka mendukung kebijakan jangka pendek, pemerintah memperkenalkan Kebijakan Anggaran Berimbang (Balanced Budget Policy). Sementara itu, berkenaan dengan beban utang luar negeri, terbentuk sebuah “konsorsium” negara-negara donatur bernama Inter-Govermental Group On Indonesia (IGGI). Dengan kebijakan-kebijakanyang di tempuh selama periode jangka pendek ini, Indonesia membuka peluang bagi masuknya investasi asing dan menaruh kepercayaan yang lebih besar pada kekuatan pasar.

         Di sektor moneter, di lakukan reformasi besar atas sistem perbankan. Bersamaan dengan itu, Indonesia kembali menjadi anggota Internasional Monetary Fund (kita keluar dari keanggotaan IMF pada bulan Agustus 1965). Tiga Undang-undang baru tentang perbankan diberlakukan; masing-masing Undang-undang tentang perbankan 1967, Undang-undang tentang Bank Sentral tahun 1968, dan Undang-undang tentang Bank Asing tahun 1968. Ketiganya menjadi basis legal bagi pelaksana dan pengaturan kerangkasistem moneter. Peranan bank-bank dan lembaga-lembaga keuangan lain sebagai “agen pembangunan” diperbesar. Lembaga-lembaga ini di harapkan memobilisasi tabungan masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Mereka juga di harapkan memainkan peranan penting dalam pembangunan pasar uang dan pasar modal.